6 TEMA UNTUK `YOUNG BLOOD` TARUMANAGARA

 Ir. Agustinus Sutanto, M.Arch., M.Sc., PhD

( Kurator )

     Third Place adalah isu sentral yang dipilih menjadi soal dalam Studio Tugas Akhir STUPA 8-29 (Tahun ajaran semester genap 2019 - 2020). Fokus yang ditekankan dari isu ini adalah: “Bagaimana arsitektur dapat berperan dalam mengangkat kembali kebutuhan hakiki manusia dalam kehidupan sosialnya“. Proposal desain yang diajukan oleh para peserta STUPA 8 adalah membuat antithesis berdasarkan pada tantangan utama modernitas yaitu masalah perencanaan, perumahan, produksi massal dan industrialisasi. Ambisinya adalah  menuju kepada sebuah tatanan keruangan baru, yaitu tidak mungkin lagi memahami realitas melalui konstruksi atau representasi konseptual tunggal, seperti dalam konsep universal modernitas. Dunia sekarang menjadi sangat cepat dan beragam, penuh dengan kompleksitas keruangan dan banyak sejarah baru tercipta. Juhani Pallasmaa mengungkapkan bahwa “Dalam era millennium, sejarah universal menjadi tidak mungkin, karena sejarah telah terurai menjadi banyak sejarah yang heterogen dan alternatif. Modernitas telah kehilangan kredibilitas karena karena banyak sejarah alternatif telah diungkapkan dalam menjawab tantangan kehidupan baru.” Arsitektur sebagai bagian dari peradaban sejarah manusia, memiliki kesempatan untuk mengusulkan alternatif keruangan lainnya. Ini penting, sebagai bagian membangun sejarah keruangan baru - ruang baru tersebut adalah third place atau tempat ketiga, sebuah tempat yang jauh dari `hiruk-pikuk` modernitas.....................

OPEN ARCHITECTURE AS …

The Third Place Architecture

Suwardana Winata, S.T, M.Arch.

Open Architecture As …

Third place what is?

      Third place merupakan tempat yang mempertemukan berbagai macam masyarakat, dimana kegiatannya TIDAK terkait dengan rutinitas rumah (1st place) dan rutinitas pekerjaan (2nd place).  Third place diperlukan bagi semua orang karena merupakan tempat dimana orang dapat melepaskan kepenatan yang terjadi pada aktivitas keseharian mereka. Oldenburg mencatat bahwa Third place memiliki setidaknya tujuh karakter ruang yang unik. 

       Karakter third place merupakan tempat yang netral, dimana setiap orang yang pergi ke third place, memiliki kedudukan yang sama, tidak ada hierarki maupun status. Pengunjung yang datang meninggalkan semua atribut keseharian mereka seperti jabatan, fungsi manajemen, latar belakang budaya bahkan status marital.  Kondisi ini menyebabkan hilangnya tingkat perbedaan antar manusia yang menjadi karakter third place yang kedua. Perbedaan biasanya terjadi pada tempat-tempat tertentu, seperti di pusat perbelanjaan (seperti mall, trade center), yang merupakan tempat berkumpulnya berbagai macam karakter manusia. Pusat perbelanjaan adalah tempat aktivitas ekonomi, dimana uang menjadi pembeda yang menciptakan kondisi status ekonomi. Ada barang yang dijual dengan sangat mahal, ada barang yang dijual dengan murah. Ada yang menjual secara eksklusif. Kondisi ini menyebabkan segregasi pada pengunjung pusat perbelanjaan, yang merupakan hal yang lumrah bila terjadi di pusat perbelanjaan..............................

TEMPAT KETIGA

 Ir. Agustinus Sutanto, M.Arch., M.Sc., PhD

( Kurator )

“ Dalam masyarakat kita sekarang, kita lebih suka melihat diri kita hidup daripada kehidupan.”

Guy Debord

     Membicarakan sebuah tempat di kota adalah membicarakan tentang ruang-ruang yang kita huni, yaitu ruang publik dan ruang privat. Kedua ruang ini adalah fitur penting dan menjadi kunci dari formasi sosial masyarakat dalam mengatur dirinya sendiri dan orang disekitarnya. Ali Madanipour dalam bukunya Public and Private Spaces in the City mengatakan bahwa untuk memahami organisasi ruang dan masyarakat yang dikotomis ini, investigasi dilakukan dalam tiga skala: skala spasial (tubuh, rumah, lingkungan, kota), tingkat eksklusivitas dan keterbukaan (dari yang paling pribadi ke yang paling umum), dan cara-cara penghubung sosial dan asosiasi dengan ruang (pribadi, antar pribadi, impersonal). Berbagai tingkat ruang yang begerak dari ruang privat ke ruang publik dapat digambarkan sebagai : ruang batin pribadi (personal space) bergerak menuju pribadi dalam ruang (personal dan privat) kemudian berada dalam rumah bersama dengan ruang lainnya (privat), ini berkaitan dengan domain ruang privat. Kemudian ketika `tubuh` mulai keluar dari rumah, nilai ke-privat-an mulai berkurang, ruang interpersonal antar-orang di antara orang asing, ruang komunal lingkungan, ruang publik institusi dan ruang-ruang impersonal kota, ini berkaitan dengan domain ruang publik. Kehidupan di kota selalu bekaitan dengan nilai ke-privat-an dan ke-publik-an, karena bentuk kota dan karakteristik kehidupan perkotaan dipengaruhi oleh tentang bagaimana kedua ruang ini mengelola` perambahan oleh kepentingan pribadi ke ranah publik` dan `ancaman intrusi publik ke ranah privat.` ..........................

TARUMANAGARA

BEST ARCHITECTURE FINAL PROJECTS

logo-untar-1.png