OPEN ARCHITECTURE AS....

 Suwardana Winata, S.T., M.Arch.

( Lecturer )

Third place what is?

      Third place merupakan tempat yang mempertemukan berbagai macam masyarakat, dimana kegiatannya TIDAK terkait dengan rutinitas rumah (1st place) dan rutinitas pekerjaan (2nd place).  Third place diperlukan bagi semua orang karena merupakan tempat dimana orang dapat melepaskan kepenatan yang terjadi pada aktivitas keseharian mereka. Oldenburg mencatat bahwa Third place memiliki setidaknya tujuh karakter ruang yang unik. 

       Karakter third place merupakan tempat yang netral, dimana setiap orang yang pergi ke third place, memiliki kedudukan yang sama, tidak ada hierarki maupun status. Pengunjung yang datang meninggalkan semua atribut keseharian mereka seperti jabatan, fungsi manajemen, latar belakang budaya bahkan status marital.  Kondisi ini menyebabkan hilangnya tingkat perbedaan antar manusia yang menjadi karakter third place yang kedua. Perbedaan biasanya terjadi pada tempat-tempat tertentu, seperti di pusat perbelanjaan (seperti mall, trade center), yang merupakan tempat berkumpulnya berbagai macam karakter manusia. Pusat perbelanjaan adalah tempat aktivitas ekonomi, dimana uang menjadi pembeda yang menciptakan kondisi status ekonomi. Ada barang yang dijual dengan sangat mahal, ada barang yang dijual dengan murah. Ada yang menjual secara eksklusif. Kondisi ini menyebabkan segregasi pada pengunjung pusat perbelanjaan, yang merupakan hal yang lumrah bila terjadi di pusat perbelanjaan.

   Third place sebagai tempat pertemuan didominasi dengan aktivitas perbincangan. Topik yang diperbincangkan bermacam-macam, kebanyakan tentang politik maupun ekonomi, menurut Oldenburg. Third place pada mulanya terbentuk dari kebiasaan berkumpul para pria sehabis bekerja. Perlu diingat, bahwa sebelum berlakunya persamaan hak manusia, pria harus bekerja di luar rumah dan wanita melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak di rumah, karena itu third place memiliki kondisi yang mono gender, yang di kemudian hari tempat-tempat ini berubah menjadi tempat eksklusif dan kehilangan statusnya sebagai third place yang netral.

       Pengunjung third place adalah pengunjung reguler, hal ini terjadi karena third place merupakan bagian dari komunitas suatu desa atau area (district). Kedekatan antar pengunjung merupakan hal terpenting dalam pembentukan third place, sehingga hal ini kemudian tercermin dalam pembentukan third place. Third place memiliki kekhasan yang berbeda dengan third place di tempat lain, termasuk didalamnya adalah ruang dan program yang terjadi di dalam third place. Third place merupakan bagian dari komunitas, karena itu aksesibilitas menjadi hal penting. Aksesibilitas sangat diperlukan, karena itu posisi terhadap komunitas menjadi perlu, bahkan terkadang third place memiliki posisi penting seperti kantor pemerintahan.

      Third place sebagai tempat dimana masyarakat berkumpul, dan memiliki status yang sama sehingga third place menjadi tempat netral, dan sederhana (unpretentious). Kesederhanaan ini penting agar masyarakat dapat datang tanpa keraguan. Arsitektur dalam pembentukannya terkadang menggunakan simbol-simbol tertentu, sehingga menimbulkan interpretasi bagi masyarakat tertentu. Interpretasi inilah menyebabkan timbulnya segregasi dan keengganan untuk datang ke bangunan tertentu.  Kesederhanaan ini membuat third place menjadi tempat yang terbuka bagi siapa saja.

       Karakter terakhir yang terpenting dari third place, tempat ini haruslah playful atau menyenangkan bagi siapapun, sehingga ketika meninggalkan third place, orang keluar dengan muka tersenyum dan kembali ke rumah dengan perasaan gembira. Third place tidak hanya menjadi tempat untuk suatu masyarakat berkumpul melainkan tempat dimana masyarakat dapat menemukan kegembiraan dalam kebersamaan. Masyarakat tradisi seperti yang diamati oleh Levi Straus, merupakan masyarakat yang bergantung pada komunitasnya, mereka selalu berkumpul mengelilingi api unggun di malam hari untuk bercerita maupun sharing pengalaman mereka ketika bekerja. Kegiatan ini menimbulkan suatu ikatan secara tiga dimensional, (tua muda, pria wanita, pemimpin maupun yang dipimpin), duduk bersama membicarakan apa yang terjadi pada hari itu. Pada masyarakat modern, aktivitas ini berkurang, sehingga ikatan antar individu di masyarakat modern di kota tidaklah sekuat masyarakat tradisi. 

         Masyarakat perlu suatu tempat berkumpul yang ‘netral’, tanpa pretensi dan tentunya mudah diakses baik secara fisik maupun finansial. Tempat berkumpul inilah yang disebut dengan third place, dimana masyarakat dapat keluar sementara dari keseharian hidupnya. Berbeda dengan tempat hiburan atau shopping center, karena untuk memasuki tempat seperti itu, diperlukan tiket masuk atau terjadi perbedaan status (kaya-miskin, pembeli, dan bukan pembeli). Third place merupakan kombinasi semua itu dengan tujuan utama membuat kegembiraan. Third place dengan konteks saat ini, diperlukan suatu strategi desain serta penyusunan program yang mampu mengakomodir kebutuhan yang sesuai dengan konteks masyarakatnya.

The Social Organism
Social Space as Third Place Structure
Open Architecture -Open Structure -Open Space
Show More

End Note

REFERENSI

     Third place di dalam konteks kota merupakan sebuah tempat yang mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat kota yang beragam, hectic, serba cepat, rutin dan juga dinamis. Tempat ini sesuai dengan definisi Oldenburg merupakan tempat yang bukan workplace tetapi juga bukan homeplace. Masyarakat yang keluar dari third space haruslah menjadi senang, karena dapat keluar sementara dari kepenatan rutinitas.

     Third place dalam konteks kota, tidaklah pemilih dan tertutup (exclusive) melainkan tempat yang terbuka bagi siapapun. Walaupun merupakan tempat yang menerima siapapun, diperlukan program-program pendukung agar the third place dapat berfungsi dan operasional sesuai dengan rencana. Pembagian program binary (regulated not regulated, paid not paid, to serve to be served dan lain-lain) haruslah dilakukan secara cermat dan seimbang demi menjaga tujuan utamanya yaitu terbuka (open space open structure).

    Third place bukan sebuah shopping center, bukan tempat bermain (playground), bukan pusat rekreasi (recreational center) dan juga bukan tempat sharing bekerja (co-workings place). Third place adalah tempat yang menyeimbangkan berbagai macam hal (natural-buatan, serius tidak serius, learning-playing, dan lain-lain) dengan tujuan utama melepas dari kerutinan, bertemu, berbincang-bincang (rendevouz), berkumpul, sharing, serta fun.

Theoretical and Philosophy

Oldenburg, Ray. 1989, 1991. The Great Good Place. 

Colomina, Beatriz. 1992. Sexuality and Space. Princeton Architectural Press.

Lefebvre, Henri. 1992. Production of Space. Wiley.

 Heidegger, Martin. 1971. Building, Dwelling and Thinking (Poetry, Language, Thought). New York.

Architecture and Space

Hertzberger, Herman. 1991. Articulation and Lesson for students in Architecture.

McLaren, Duncan &  Agyeman, Julian. 2017. Sharing City. MIT Press.

Ratti, Carlo & Claudel, Matthew. 2016. City of Tomorrow. Yale University Press.

 

-SW 2019-

TARUMANAGARA

BEST ARCHITECTURE FINAL PROJECTS

© Public Expose Tarumanagara 8.29