O

OPENNESS

Kota-kota yang ingin ditinggali oleh setiap orang harus bersih dan aman, memiliki layanan publik yang efisien, didukung oleh ekonomi yang dinamis, memberikan stimulasi budaya, dan juga melakukan yang terbaik untuk menghilangkan perbedaan ras, kelas, dan etnis dari masyarakat.”

Richard Sennett

      Dalam pandangan Henri Lefebvre, Kota dengan penghuninya serta agen-agen di dalamnya menjadi latar belakang terjadi kehidupan sehari-hari masyarakat serta cara habitatnya berproduksi. Negara dan kondisi kapitalisme mengatur dan merasionalisasi ruang untuk produk sosial, aliran kapital, dan produksi barang. Bagi Henri Lefebvre : "(sosial) ruang adalah produk (sosial)" ….  ruang sangat jelas bersifat politis, dan secara bersamaan keduanya merupakan produk politik dan kepentingan politik.” Menyiapkan sebuah kota menjadi terbuka (openness) merupakan sebuah usaha untuk menempatkan `ruang keseharian` sebagai yang utama, yaitu sebuah ruang dimana interaksi sosial dapat terjadi serta ruang yang menjadi ajang untuk bertemu semua orang dari berbagai lapisan. 

        Ketika sebuah tempat menjadi terbuka (open city),  maka tempat tersebut harus siap dengan segala dinamika yang akan terjadi. Tempat ini menjadi sebuah tempat yang akan mengakomodir berbagai manusia dan kegiatan didalamnya, serta tempat ini menjadi tempat yang sangat netral. Seperti yang dikatakan Suwardana dalam diskusi soal STUPA 8,  bahwa ketika sebuah tempat menjadi terbuka maka tempat tersebut bukanlah seperti sebuah supermarket yang menyediakan segalanya, melainkan sebuah tempat yang sebagian besar bersifat melayani (served) dan yang dilayani (to be served). Tempat melayani merupakan tempat yang secara aktif memberikan layanan terhadap tempat lain sehingga keduanya dapat saling membantu dan beroperasi dengan baik. 

      Melalui desain STUPA 8 ini, kita dapat melihat bahwa karya-karya yang ada sudah mencoba mengerti pemaknaan tempat ketiga melalui pendekatan yang berbeda dari satu karya ke karya yang lain, sehingga kita dapat membaca berbagai konfigurasi keruangan yang menarik. Prinsip berkumpul telah menjadi ciri khas dari banyak tempat ketiga yang dirancang, serta memiliki pandangan bahwa dengan berkumpulnya orang dari berbagai kondisi akan memberikan budaya baru. Selain itu, prinsip kesadaran bahwa ketika kota menjadi terbuka, maka sebuah kota adalah `dunia orang asing` / A world of strangers,  yang mau tidak mau kita harus berdampingan dengan orang asing di sekitar kita. Ambisi dalam karya-karya STUPA 8 yang ditampilkan adalah membangun jaringan sosial dengan mengedepankan sifat keterbukaan serta menjawab kebutuhan sebuah komunitas (neighbourhood). Tempat ketiga ini pada akhirnya, mengemban visi urban yang dapat dianggap paling menjawab tantangan masyarakat kota dewasa ini.

TARUMANAGARA

BEST ARCHITECTURE FINAL PROJECTS

logo-untar-1.png