P

PROGRAM

Arsitektur bukan hanya tentang ruang dan bentuk, tetapi juga tentang peristiwa, tindakan,

dan apa yang terjadi di ruang.

Bernard Tschumi

      Arsitektur memiliki persyaratan praktis yang perlu dipenuhi melalui keruangannya. Untuk itu, program telah menjadi bagian dari arsitektur sejak arsitektur itu sendiri ada. Bernard Tschumi mengungkapkan sebuah proposisi bahwa “there is no architecture without action, no architecture without event, no architecture without program.” (Screenplay, 1976). Melalui pernyataannya, Bernard Tschumi menegaskan bahwa arsitektur muncul sebagai dialog yang kuat antara aksi – sebagai sebuah tindakan merasakan ruang, kejadian – sebagai simpul dari aktivitas yang terjadi dalam ruang, dan program – sebagai rangkaian fungsi yang direncanakan. Artinya, dalam arsitektur, program dibentuk sebagai sesuatu yang terstruktur, namun dalam kinerjanya juga memiliki unsur spontanitas melalui aksi dan kejadian.

     Program memegang peranan penting dalam membentuk sebuah kejadian di dalam ruang. Sebuah program, dalam definisi yang paling dasar, berisi kebutuhan-kebutuhan spasial yang mengisi sebuah ruang. Bagi Rem Koolhaas program memiliki dua makna. Yang pertama, program merupakan cara untuk menghadirkan ekspresi dalam arsitektur, seperti menggubah sebuah skenario film. Yang kedua, dalam kaitan dengan profesi arsitektur, program adalah sebuah agenda, yang bisa datang dari stakeholder maupun dari pribadi arsitek. Dalam pandangan yang berbeda, Bernard Tschumi mengungkapkan bahwa program tidak memiliki hubungan yang pasti dengan bentuk. Menurut Tschumi, hubungan antara program dan bentuk dapat berupa timbal balik (reciprocity), ketidakpedulian (indifference), atau konflik (conflict). 

        Dalam Karya-karya STUPA 8, sebuah program dianggap sebagai sebuah aktivitas sosial dari bangunan yang dirancang. Program yang diusulkan harus memiliki kekuatan untuk menarik warga  datang ke tempat ketiga ini. Program muncul karena kebutuhannya, perhatian, harapan dan empati terhadap sebuah kondisi. Dalam berbagai proyek yang ada pada STUPA 8 ini, taktik dan strategi yang diterapkan adalah menyusun program dalam arsitektur lebih dari sekadar menyusun sebuah puzzle, proses ini membutuhkan strategi tiga dimensional dan volumetrik, pemahaman tentang ruang, penambahan - pengurangan elemen-elemen yang digunakan, serta sebuah konsep yang kuat tentang visi dari program yang ditawarkan. Keseluruhan proses ini menjadi bagian dalam perancangan yang tidak terlepas satu dengan yang lainnya, serta perlu untuk ditampilkan dengan jelas. Sebagai Tempat Ketiga, program yang disusun selalu bersifat `politik`, artinya penetapan sebuah program selalu mendukung kepentingan tertentu, dalam hal ini berkaitan dengan formasi sosial yang ada. Program tidak dapat lepas dari konteks, dalam proyek-proyek yang dirancang, terlihat bahwa  program yang ditawarkan selalu mencoba mempertimbangkan kondisi eksistingnya (misalnya lokasi), baik secara fisik atau non-fisik serta program yang dimunculkan terlihat menjadi program unik dan baru bagi warga dan kawasan sekitarnya.

TARUMANAGARA

BEST ARCHITECTURE FINAL PROJECTS

logo-untar-1.png