The social organism

   Manusia, sebagai makhluk sosial, selalu berinteraksi dengan cara memilih siapa dan apa serta tujuan mereka berinteraksi. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya suatu masyarakat atau disebut dengan komunitas. Pembentukan komunitas sangatlah dinamis, baik dari segi jumlah manusianya maupun dari tujuan interaksinya. Anggota dari komunitas ini dapat berganti-ganti kemudian membentuk komunitas baru. Keberadaan  komunitas ini kemudian membentuk social space atau ruang sosial.

     Saat ini ruang sosial dapat berbentuk fisika maupun non fisik ataupun virtual. Ruang sosial virtual dapat berupa media sosial seperti facebook tm, Instagram atau twitter. Komunitas dapat terjadi berdasarkan kesukaan (masak, fotografi), tujuan (membela hak asasi, membantu difabel), kesamaan pandangan (tentang sesuatu) dan banyak hal lainnya. Media sosial dalam era virtual, merupakan pengembangan dari ruang sosial non fisik yang terjadi di dalam masyarakat seperti arisan, papan berita koran di sudut jalan (sampai dengan tahun 90-an masih dapat ditemukan di perempatan jalan pada pedesaan). Pada masa itu koran merupakan barang langka karena sangat dikontrol oleh pemerintah, sehingga ketika koran sengaja dipasang pada papan pengumuman dan berbondong-bondong masyarakat membacanya, dan kemudian timbul berbagai diskusi sesuai kesukaan mereka pada sudut-sudut jalan. Pada era 80, dengan adanya Kelompencapir (kelompok, pendengar, pembaca dan pemirsa) yang menghantar Indonesia swasembada pangan di tahun 1984. Pembentukan ini membentuk komunitas petani dan nelayan untuk saling belajar dan membagikan ilmu pertanian atau perikanan.  Diskusi seperti ini efektif untuk membentuk masyarakat terutama terhadap tujuan hidup mereka. Ruang sosial secara fisik dibentuk di dalam masyarakat terutama pada masyarakat tradisi. Berbagai istilah digunakan untuk menamakan ruang sosial mereka, seperti pendopo, banjar, rumah panjang dsb. Ruang sosial seperti ini merupakan pusat kehidupan masyarakat atau komunitas untuk memecahkan berbagai macam hal di dalam keseharian mereka, karena itu secara posisi maupun bentuk dan pemaknaan bentuknya selalu memiliki pemaknaan dan simbol yang terkait dengan keadilan, kebersamaan dan kemasyarakatannya, seperti makna soko guru yang disimbolkan pada empat buah tiang penopang atap pendopo.

   Ruang sosial dalam konteks kota memerlukan pendekatan yang berbeda dan pemaknaan yang berbeda. Mekanisme dalam pembentukan ruang sosial berbeda dengan komunitas masyarakat desa (tradisi). Kesulitannya terjadi dikarenakan masyarakat kota bukan monokultur atau homogen. Komposisi ini terbentuk diakibatkan oleh banyaknya pendatang yang membawa berbagai macam latar belakang budaya yang kemudian terjadi percampuran budaya. Percampuran ini menimbulkan bentukan budaya baru.

   Pembentukan ruang sosial pada masyarakat kota memiliki keunikan tersendiri dikarenakan percampuran budaya. Pencampurannya dapat melalui akulturasi (suatu budaya berubah menjadi budaya setempat) adaptasi budaya (budaya cina-melayu) atau percampuran budaya (diakibatkan perkawinan). Pada saat sekarang, percampuran budaya terjadi di berbagai tingkat kehidupan masyarakat atau kemudian disebut dengan budaya fusion

     Budaya fusion merupakan percampuran budaya yang mencampurkan unsur lokal dengan unsur global atau non lokal, contoh paling dekat adalah budaya cosplay. Budaya ini diangkat dari budaya anime yang berdasarkan budaya Jepang yang bercampur dengan budaya non Jepang yang dikemas dengan media animasi atau cartoon. Dari anime ini kemudian diterjemahkan kembali menjadi cosplay yang merupakan perwujudan fisik dari tokoh-tokoh dalam anime. 

    Budaya fusion semakin meluas dan semakin kompleks berkat adanya internet dan kemudahan teknologi lainnya. Hal yang menarik, bahwa arsitektur sudah mengamali budaya fusion sebelumnya, seperti Art Deco yang merupakan ekspansi dari Art Nouveau. Art Deco merupakan style dalam arsitektur yang mengadaptasikan budaya dekoratif Art Nouveau, yang berasal dari Prancis,  ke dalam arsitektur. Dalam penyebarannya Art Deco berkembang dengan mengadaptasikan iklim tropis (seperti Miami, Indonesia, Malaysia) ke dalam proses desainnya. Bentuk-bentuk tradisional diadaptasikan dengan material modern seperti beton (yang tidak dikenal oleh masyarakat tradisi). Komposisi ruang yang menganut gaya eropa dengan empat musimnya, beradaptasi dengan budaya lokal seperti penggunaan teras yang umum didapatkan pada desain masyarakat tradisi, hal ini mengakibatkan pergeseran-pergeseran pada komposisi ruangnya. Koridor di dalam pindah menjadi koridor luar yang berfungsi sebagai teras. Komposisi ruang yang berorientasi ke dalam dan bersekat banyak, berubah berorientasi ke luar dengan ruang tanpa sekat agar dapat memanfaatkan aliran udara semaksimal mungkin.  Bentuk atap klimis agar dapat memasukkan sinar sebanyak mungkin pada gedung atau rumah di Eropa, berevolusi dengan penambahan kanopi atau perpanjangan atap, sehingga sinar matahari dapat dikurangi. Akibat dari perubahaan orientasi dan komposisi ruang, juga berpengaruh kepada ruang sosialnya. Penciptaan ruang-ruang sosial pada masyarakat ‘Art Deco’ lebih berorientasi pada ruang-ruang terbuka seperti teras rumah atau taman atau kombinasinya. Ruang-ruang yang sebelumnya dikelilingi oleh bangunan (inner courtyard), pada masyarakat tropis, berubah menjadi ruang-ruang terbuka tanpa dikelilingi bangunan, sehingga ruang sosial yang terbentuk lebih dekat dengan alam. Namun seiring dengan perubahan zaman, ruang sosial mulai bergeser, dikarenakan polusi dan suhu udara yang semakin panas, masyarakat kota kembali masuk ke dalam bangunan, ruang-ruang sosial yang terbuka dan dekat dengan alam, berganti dengan bangunan pusat perbelanjaan yang tertutup dan berpendingin udara. 

   Arsitektur berevolusi seiring dengan perkembangan manusia. Saat ini, perkembangan manusia dipengaruhi oleh teknologi. Berbagai kemudahan dengan mudah didapat, dengan hilangnya berbagai hambatan seperti waktu dan tempat. Ruang sosial yang ada berpindah menjadi ruang virtual, dimana pertemuan secara ‘fisik’ menjadi nadir. Ruang sosial secara fisik, menghadirkan manusia secara utuh, secara wujud nyata, dapat disentuh, emosi terlihat atau terasakan, tekanan suara dan yang lebih penting aroma. Aroma mungkin sampai saat ini masih belum dapat tergantikan. Beberapa ahli, menyatakan ketika emosi meningkat, sebenarnya manusia melalui ekskresinya, mengeluarkan aroma tertentu dan mempengaruhi lingkungan sekitarnya termasuk lawan bicaranya. Indra penciuman manusia memang tidak sepeka mamalia lainnya, tetapi secara tidak sadar manusia mencium bebauan yang kemudian memicu memori manusia sehingga menimbulkan kenangan tertentu, bahkan terkadang memicu memori kolektif bagi sekumpulan manusia atau komunitasnya. Aroma merupakan salah satu substansi yang dapat mengikat komunitas social tertentu. Substansi inilah yang kemudian dapat mengikat dan membentuk jaringan yang khas dan unik. Indra penglihatan, juga seperti halnya dengan aroma, memiliki ikatan kolektif melalui citra yang ditangkap oleh mata yang kemudian memanggil ingatan tertentu terhadap citra yang ditangkap. Substansi inilah yang diperlukan untuk membentuk ruang sosial yang kemudian direpresentasikan dalam arsitektur. 

     Pendekatan melalui memori kolektif dapat dilakukan dalam pembentukan ruang sosial, sehingga ruang terjadi, dapat diterima oleh komunitas dengan mudah. Memori kolektif, memiliki kekhasan yang berubah seiring dengan umur manusia, demikian pula dengan gender, apa yang diingat oleh pria tentunya berbeda dengan apa yang diingat oleh wanita. Contoh yang paling sederhana, pada umumnya pria akan lebih mudah mengingat hal-hal terkait dengan permainan bola daripada wanita, sedangkan wanita lebih tertarik dengan drama atau sinetron daripada pria. Memori kolektif seperti ini perlu dieksplorasi dalam menentukan bentukan arsitektur baik secara ruang maupun secara citra. Namun manusia sangatlah pemilih, sehingga dengan kekuatan kolektif inilah, membentuk sebuah komunitas yang mono community (mono culture).

Pembentukkan Social Organism tidaklah dapat terjadi secara mono culture atau mono community, diperlukan beberapa mono community yang terintegrasi untuk membentuknya. Social organism seperti halnya jaringan, dimana diperlukan berbagai mono community yang saling mengisi baik secara fungsi maupun non fisik dan terikat dalam suatu ikatan yang kemudian membentuk jaringan. Jaringan-jaringan ini dapat diperluas sampai dengan tingkat kota. Jaringan ini agar dapat berfungsi dengan baik diperlukan suatu struktur yang mampu merangkul setiap mono community yang ada.

TARUMANAGARA

BEST ARCHITECTURE FINAL PROJECTS

logo-untar-1.png