Social Space as Third Place Structure

     Struktur dalam makhluk hidup memiliki peran penting, terutama pada organisme yang membentuk komunitas, atau disebut dengan struktur sosial. Peran struktur dalam organisme bertujuan untuk mengikat antara masing-masing individu dalam komunitas yang akan dibentuk. Setiap individu secara sukarela akan menentukan peran masing-masing dalam pembentukkan komunitasnya.

     Social space memiliki faktor terpenting yaitu berkumpul (gathering), tentunya untuk hal positif. Ketika berkumpul, setiap individu dapat saling bertemu, bertukar pikiran, mengeluarkan pendapat,  belajar, bermain dan sebagainya. Kegiatan seperti ini akan menimbulkan ikatan berdasarkan interest yang disukainya, namun dalam masyarakat modern, yang sangat individual, diperlukan suatu event atau program yang mampu menghubungkan satu dengan lainnya. Setiap ikatan memiliki kekhasan tersendiri, seperti faktor usia, usia remaja lebih mudah terjadi ikatan sosial daripada usia anak atau dewasa. Ikatannya dapat dibentuk melalui group belajar (non formal) maupun permainan tertentu. Sedangkan usia dewasa lebih terkait dengan isu-isu tertentu yang menyebabkan mereka saling bertemu. Faktor gender juga menentukan, wanita lebih mudah membentuk ikatan sosial daripada pria. Kegiatan-kegiatan seperti arisan, kursus masak, child care dapat mempertemukan satu dengan lainnya dan kemudian membentuk ikatan sosial. Ikatan-ikatan sosial ini kemudian akan membentuk komunitas-komunitas yang perlu diakomodir di sebuah tempat. Ikatan sosial dapat terjadi bila bersifat terus menerus. Semakin lama ikatan itu akan semakin kuat, karena itu diperlukan tempat yang dapat membantu setiap individu membentuk ikatan itu. 

     Third place saat ini merupakan sebuah tempat yang dapat mengakomodir berbagai macam komunitas tanpa melihat perbedaan dari latar belakangnya. Namun, harus diingat bahwa, third place bukanlah sebuah supermarket yang menyediakan segalanya, melainkan sebuah tempat yang sebagian besar bersifat melayani (served) dan yang dilayani (to be served) - lihat Herman Hertzberger. Tempat melayani merupakan tempat yang secara aktif memberikan layanan terhadap tempat lain sehingga keduanya dapat saling membantu dan beroperasi dengan baik. Tempat melayani merupakan tempat yang bersifat produktif baik dari segi finansial maupun sifat layanannya. 

     Dalam membentuk ikatan sosial secara sengaja maupun tidak, terdapat aturan-aturan yang mengelola proses ikatan sosial itu. Ikatan sosial tidak dapat berjalan tanpa adanya regulasi. Regulasi yang mengatur agar dapat menghindari berbagai macam benturan antar individu maupun ikatan yang lebih besar yaitu komunitas. Regulasi ini juga tercermin dalam bentuk program, dimana ada tempat yang bersifat regulasi, ada tempat yang bersifat ‘bebas’. Tempat yang diregulasi merupakan tempat yang memiliki aturan-aturan ‘spesifik’ sehingga pengguna tempat itu perlu memenuhi kondisi yang ada, seperti sebuah restoran atau café, dimana untuk dapat masuk pengunjung perlu membayar sesuatu atau membeli sesuatu.

TARUMANAGARA

BEST ARCHITECTURE FINAL PROJECTS

logo-untar-1.png