T

TELESIS

Kekuatan telesis dari suatu desain harus mencerminkan waktu dan kondisi yang dimunculkan dan harus cocok dengan tatanan sosial ekonomi manusia secara umum dimana ia beroperasi.

Victor Papanek

      Kata telesis berasal dari telos = akhir + osis = kondisi, dan dapat diartikan sebagai `sebuah kondisi akhir`. Dalam kamus terminologi didefinisikan sebagai sebagai sebuah usaha yang cerdas untuk mencapai tujuan. Victor Papanek menggunakan istilah telesis sebagai fungsi desain yang berusaha mewadahi dimensi sosial dan budaya pada tempat desain tersebut dibutuhkan dan digunakan. Sebuah kondisi akhir adalah sebuah proses yang telah mengalami uji coba, sehingga merupakan sebuah kesimpulan dan  hasilnya dapat diterima secara umum. Oleh karena itu, tidak tepat meniru kebiasaan atau desain di tempat lain secara langsung, yang memiliki alam dan lingkungan yang berbeda serta tanpa proses uji coba. Pengertian ini memiliki dimensi bahwa nilai sebuah tempat dan proses menempati menjadi sangat penting, melihat sebuah tempat dengan fungsi tertentu serta menganalisis dimensi sosial dan budaya yang ada, merupakan cara terbaik untuk arsitektur dapat dihadirkan. Menempatkan telesis sebagai sebuah titik tolak berpikir, akan menggiring kepada hasil akhir dari sebuah produk yang dapat menjawab kebutuhan dalam dimensi sosial-budaya sesuai dengan konteks tempat dari produk yang dimunculkan.

      Sebuah kondisi akhir selalu berkaitan dengan ruang dan waktu dimana sebuah kondisi itu berada. Kata kunci lainnya dari telesis adalah kesejamanan, yang artinya bahwa sebuah kondisi akhir harus memiliki kecocokan dengan zaman dimana kondisi itu terjadi. Setiap zaman selalu memberikan ‘ruang kontribusi’ untuk sebuah kondisi yang terjadi. Sebagai contoh, David Harvey dalam bukunya The Condition of Postmodernity, melihat posisi postmodernitas dengan menggunakan gagasan 'kompresi ruang-waktu'. Ada kondisi-kondisi terkini, sehubungan dengan perubahan mendasar dalam kualitas ruang dan waktu, dan  David Harvey berpendapat bahwa kita telah dipaksa untuk mengubah secara radikal cara-cara representasi dunia yang kita hadapi. Dunia telah menjadi sebuah ajang representasi karenanya 'ada waktu dan tempat untuk segalanya' dibawa ke dalam serangkaian resep yang mereplikasi tatanan sosial dengan memberikan makna sosial pada ruang dan waktu. Menjadi menarik, bahwa sebuah proyek arsitektur tidak pernah terlepas dengan apa yang akan dihadapi, ketika arsitektur itu dimunculkan. Kecocokan terhadap tempat, budaya, sosial dan kesejamanan menjadi parameter yang dapat memberikan kontribusi penting dari fungsi arsitektur itu sendiri.

      Dalam karya-karya yang ditampilkan, kekuatan telesis sebagai tema yang diusung dapat dilihat dari produk keruangan diciptakan, ide keruangannya adalah mencoba menyesuaikan dengan kondisi kontemporer yang terjadi sekarang ini. Tempat yang dipilih sebagai lokasi proyek, menjadi kata kunci untuk membangun `interaksi sosial`, dengan melihat aspek sosial-budaya yang hadir di lingkungan dan komunitasnya. Dalam karya-karya STUPA 8, ‘permeabilitas ruang’ menjadi ide besar dari rangkaian konfigurasi keruangan yang ingin dihasilkan, yang kemudian menawarkan sebuah proposisi: “Semakin terjadinya `rembesan ruang` maka semakin banyak kemungkinan ‘people movement’ yang akan tercipta.” Dalam desain yang ada,  manusia adalah agen penting keruangan dan bertindak sebagai aktor utama dalam mengembangkan formasi sosial di dalamnya. Tempat ketiga dengan formasi sosial yang terbentuk, boleh jadi akan merupakan alternatif ‘ruang baru’ yang cocok untuk menjawab tantangan kesejamanan dan ruang kota kontemporer.

TARUMANAGARA

BEST ARCHITECTURE FINAL PROJECTS

logo-untar-1.png