TEMPAT KETIGA

Dalam masyarakat kita sekarang, kita lebih suka melihat diri kita hidup daripada kehidupan.”

                                                                                                                                                              Guy Debord

 Ir. Agustinus Sutanto, M.Arch., M.Sc., PhD.

( Kurator )

     Membicarakan sebuah tempat di kota adalah membicarakan tentang ruang-ruang yang kita huni, yaitu ruang publik dan ruang privat. Kedua ruang ini adalah fitur penting dan menjadi kunci dari formasi sosial masyarakat dalam mengatur dirinya sendiri dan orang disekitarnya. Ali Madanipour dalam bukunya Public and Private Spaces in the City mengatakan bahwa untuk memahami organisasi ruang dan masyarakat yang dikotomis ini, investigasi dilakukan dalam tiga skala: skala spasial (tubuh, rumah, lingkungan, kota), tingkat eksklusivitas dan keterbukaan (dari yang paling pribadi ke yang paling umum), dan cara-cara penghubung sosial dan asosiasi dengan ruang (pribadi, antar pribadi, impersonal). Berbagai tingkat ruang yang begerak dari ruang privat ke ruang publik dapat digambarkan sebagai : ruang batin pribadi (personal space) bergerak menuju pribadi dalam ruang (personal dan privat) kemudian berada dalam rumah bersama dengan ruang lainnya (privat), ini berkaitan dengan domain ruang privat. Kemudian ketika `tubuh` mulai keluar dari rumah, nilai ke-privat-an mulai berkurang, ruang interpersonal antar-orang di antara orang asing, ruang komunal lingkungan, ruang publik institusi dan ruang-ruang impersonal kota, ini berkaitan dengan domain ruang publik. Kehidupan di kota selalu berkaitan dengan nilai ke-privat-an dan ke-publik-an, karena bentuk kota dan karakteristik kehidupan perkotaan dipengaruhi oleh tentang bagaimana kedua ruang ini mengelola` perambahan oleh kepentingan pribadi ke ranah publik` dan `ancaman intrusi publik ke ranah privat.` 1

     Rumah sebagai tempat tinggal adalah tempat yang memiliki nilai ke-privat-an yang tinggi. Kantor sebagai tempat kerja adalah tempat yang merepresentasikan nilai publik dan privat bersamaan. Station kereta api adalah sebuah tempat yang memiliki nilai ke-publik-an yang tinggi. Kondisi-kondisi ini adalah keadaan yang menjadi tampak didepan mata dan realitas hidup masyarakat kota, lalu adakah tempat, dimana warga kotanya dapat berkumpul dan bersenda gurau, untuk membangun ruang impersonal yang benar-benar publik?

     Tempat pertama adalah rumah, Tempat kedua adalah tempat kerja dan Tempat Ketiga – Third Place adalah lingkungan sosial yang terpisah dari dua lingkungan sosial rumah ("tempat pertama") dan tempat kerja ("tempat kedua"). Third Place atau Tempat Ketiga adalah istilah yang diciptakan oleh sosiolog perkotaan Ray Oldenburg dalam bukunya The Great Good Place (1989,1991). Contoh tempat ketiga adalah lingkungan seperti yang rutinitasnya berbeda dengan rutinitas yang terjadi di tempat pertama dan kedua, seperti kafe, klub, perpustakaan umum, toko buku atau taman. Dalam bukunya yang berpengaruh, The Great Good Place, Ray Oldenburg (1989) mengemukakan bahwa tempat ketiga penting bagi masyarakat sipil, demokrasi, keterlibatan sipil, dan membangun perasaan rasa tempat dengan nilai sosial interaksi yang tinggi. Maka, tempat ketiga adalah "jangkar" kehidupan komunitas dan memfasilitasi dan mendorong interaksi yang lebih luas dan lebih kreatif. Dengan kata lain, tempat ketiga adalah sesuatu yang terbuka, anda dapat bersantai depan umum dan membangun jaringan dengan orang yang sudah anda kenal maupun orang asing.2

     Ray Oldenburg mengidentifikasi "tempat ketiga" sebagai tempat umum di lokasi netral, dimana orang dapat berkumpul dan berinteraksi. Berbeda dengan tempat pertama (rumah) dan tempat kedua (bekerja), tempat ketiga memungkinkan orang untuk mengesampingkan kekhawatiran mereka dan hanya menikmati diskusi ringan dan percakapan di sekitar mereka. Tempat ketiga menjadi tuan rumah pertemuan individu, reguler, sukarela, informal, dan dengan gembira diantisipasi di luar ranah rumah dan pekerjaan. Tempat ketiga adalah jantung dari vitalitas sosial komunitas. Menyediakan fondasi bagi demokrasi yang berfungsi, ruangruang ini mempromosikan keadilan sosial dengan meningkatkan status tamu, memberikan latar bagi politik akar rumput, menciptakan kebiasaan asosiasi publik, dan menawarkan dukungan psikologis kepada individu dan masyarakat. 3 Menurut Ray Oldenburg ada delapan karakteristik yang menjadi acuan untuk terpenuhinya sebuah tempat menjadi Third Place yaitu :

Tempat Netral (On Neutral Ground)

Sebagai sebuah tempat yang netral, siapapun memiliki kebebasan untuk singgah dan berlalu dari tempat ini. Mereka tidak terikat secara politik, budaya, status marital, hukum, jabatan atau keuangan sehingga sehingga pengunjung yang datang terbebas dari atribut relasi sosial yang mengikat mereka.

 

Tempat Tanpa Kelas (The Third Place as Leveler)

Tempat ketiga tidak mementingkan status individu dalam suatu masyarakat. Status ekonomi atau sosial seseorang tidak penting di tempat ketiga, memungkinkan rasa kesamaan diantara penghuninya. Tidak ada prasyarat atau persyaratan yang akan mencegah penerimaan atau partisipasi di tempat ketiga.

 

Percakapan adalah kegiatan utama (Conversation is the main activity)

Lokasi yang netral menyediakan tempat, dan leveling mengatur panggung untuk aktivitas kebersamaan dan berkelanjutan dari tempat ketiga di mana-mana. Aktivitas itu adalah percakapan atau pembicaraan. Perbincangan menyenangkan dan bahagia adalah fokus utama, berbagai aktivitas pertukaran informasi dari yang serius sampai menghibur akan membuat atmosfer kekekuargaan di tempat ketiga ini.

 

Aksesibilitas dan akomodatif (Accessibility and accommodation)

Tempat ketiga harus terbuka dan mudah diakses bagi setiap orang yang membutuhkannya. Tempat ini memiliki nilai akomodatif, artinya memenuhi kebutuhan penghuninya, dan semua penghuni merasa kebutuhan mereka telah terpenuhi.

 

Para pelanggan tetap (The regulars)

Tempat ketiga memiliki sejumlah pengunjung tetap dalam skala komunitasnya, membantu membangun atmosfer kekeluargaan dan ambience dalam level neigbourhood. Tempat ini memberi kesempatan untuk pelanggan baru berkumpul dalam jaringan ruang sosial.

 

Tempat yang rendah hati (A low profile)

Sebagai sebuah ruang sosial, tempat ketiga memberikan rasa sejuk kepada penggunanya, merasa akrab karena ada rasa rendah hati dari setiap ruang dan program yang ditampilkan. Keterbukaan bagi setiap individu serta kelas masyarakat akan mencerminkan bahwa third place ini ini adalah sebuah tempat yang rendah hati.

 

Moodnya menyenangkan (The mood is playful)

Suasana kegembiraan menjadi kunci dari third place, setiap aktivitas yang terjadi menggambarkan suasana yang bebas, tanpa tekanan dan setiap pengunjungnya memberikan wajah berseri. Berbagai lelucon, percakapan cerdas serta diskusi intelektual menjadi sarana yang dapat membangun rasa suka dan kegembiraan pada tempat ini.

 

Jauh dari rumah (A home away from home)

Pengguna tempat ketiga akan memiliki perasaan hangat, santai dan nyaman yang sama seperti di rumah mereka sendiri. Para pengguna merasa tempat ini menjadi bagian penting yang membangun spirit walaupun tidak berada dalam rumah pribadinya.

(8)

(7)

(6)

(5)

(4)

(3)

(2)

(1)

      Suwardana Winata dalam artikelnya Open Architecture as The Third Place 4 mengungkapkan bahwa “Third place saat ini merupakan sebuah tempat yang dapat mengakomodir berbagai macam komunitas tanpa melihat perbedaan dari latar belakangnya. Namun, harus diingat bahwa, third place bukanlah sebuah supermarket yang menyediakan segalanya, melainkan sebuah tempat yang sebagian besar bersifat melayani (served) dan yang dilayani (to be served). Tempat melayani merupakan tempat yang secara aktif memberikan layanan terhadap tempat lain sehingga keduanya dapat saling membantu dan beroperasi dengan baik. Tempat melayani merupakan tempat yang bersifat produktif baik dari segi finansial maupun sifat layanannya.”

 

      Third Place adalah sebuah ruang sosial. Suwardana Winata menggambarkan bahwa : “ Ruang sosial dalam konteks kota memerlukan pendekatan yang berbeda dan pemaknaan yang berbeda. Mekanisme dalam pembentukan ruang sosial berbeda dengan komunitas masyarakat desa (tradisi). Kesulitannya terjadi dikarenakan masyarakat kota bukan monokultur atau homogen. Komposisi ini terbentuk diakibatkan banyaknya pendatang yang membawa berbagai macam latar belakang budaya yang kemudian terjadi percampuran budaya. Percampuran ini menimbulkan bentukkan budaya baru.” Lebih lanjut, Suwardana Winata mengatakan : “ Social space memiliki faktor terpenting yaitu berkumpul (gathering), tentunya untuk hal positif. Ketika berkumpul, setiap individu dapat saling bertemu, bertukar pikiran, mengeluarkan pendapat, belajar, bermain dan sebagainya. Kegiatan seperti ini akan menimbulkan ikatan berdasarkan ketertarikan yang disukainya, namun dalam masyarakat modern, yang sangat individual, diperlukan suatu event atau program yang mampu menghubungkan satu dengan lainnya.”5

     Melalui diskusi diatas tentang third place, ada beberapa kriteria yang dapat menjadi acuan agar third place sebagai ruang sosial yaitu

(a) Third place sebagai ruang sosial harus memiliki sifat Keterbukaan (openess). Melalui sifat keterbukaannya ada empat bagian penting yaitu:

(1) Third place merupakan sebuah wadah yang inklusif dan membangun kesetaraan (inclusivity & equality).

(2) Third place adalah wadah berkumpul orang asing disekitar kita (a world of strangers).

(3) Third place merupakan ruang yang mudah dimasuki atau di akses (permeable spaces)

(4) Third Place adalah sebuah ruang bersama untuk terjadinya pertukaran informasi antar pengguna (information flow)

(b) Third place sebagai ruang sosial harus memiliki sifat kontekstual (contextuality). Melalui sifat kontekstualny, third place mengusung:

(1) Third place adalah sebuah tempat yang berskala komunitas (neighbourhood) dapat mencerminkan kekuatan lokal diarus globalitas (local identity).

(2) Third place harus dapat menjawab kebutuhan masyarakat setempat (answering the people`s needs).

 

(c) Third place sebagai ruang sosial harus memiliki sifat fleksibilitas yang tinggi (fexible). Melalui sifat fleksibiltasnya, third place membangun:

(1) kebebasan untuk mencetuskan ekspresi dan rasa kegembiaran (freedom).

(2) Berbagai fungsi kegiatan dibangun dalam dinamika keperluan yang dibutuhkan (hybrid Program)

Third place adalah sebuah metode desain yang menekankan cara bagaimana mendialogkan nilai ke-privatan dan ke-publik-an dalam sebuah ruang kota. Visi dari third place adalah mengakomodasi kebutuhan beragam masyarakat kota, dan menjadi jalan tengah untuk sebuah tempat yang bukan rumah (homeplace) dan tempat kerja (workplace). Kunci utama dari third place adalah membangun jaringan sosial dalam mengedepankan sifat keterbukaan dengan menjawab kebutuhan sebuah komunitas (neighbourhood) pada temapat dimana third place itu dirancang. Third place pada akhirnya adalah sebuah visi urban yang dapat dianggap paling menjawab tantangan masyarakat kota dewasa ini.

1 Ali Madanipour (2003) Public and Private Spaces in the City, Routlegde

2 Ray Oldenburg (1989,1997,1999), The Great Good Place, Marlowe & Company, New York

3 https://www.pps.org/article/roldenburg

4 Lihat Pengantar Soal STUPA 8, Prodi Arsitektur Universitas Tarumanagara, ditulis oleh Suwardana Winata dengan judul Open Architecture as The Third Place, 2019

5 ibid

TARUMANAGARA

BEST ARCHITECTURE FINAL PROJECTS

© Public Expose Tarumanagara 8.29